Bapak, Papa, Papi, Abah, Ayah, Pipi(?)

judul di atas adalah tentang seseorang yang telah membesarkan kita, dan merawat kita dari kecil hingga besar tanpa pamrih. Namun sebagian dari kita ada yang kurang beruntung tidak dapat bertemu, atau tidak memiliki orang tersebut. Kita yang telah memilikinya harusnya bersyukur, dan menyayanginya. Terkadang, Penyesalan selalu datang belakangan,memang kadang kita merasa risih saat dia mengkhawatirkan kita, dan terlalu protektif terhadap kita. Tapi percayalah semua itu dia lakukan untuk kebaikan kita juga. Dia tidak ingin kita terjebak dalam suatu masalah, dan menjadi seorang pribadi yang gagal dalam hidup kita nanti, saat dia harus meninggalkan kita, dan kita harus hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

ya ya ya… gw bikin ini khusus buat ayah Bapak ku… Bapakku bernama Noer Hoetomo Koesoemoredjo, nama Koesoemoredjo diambil dari nama kakekku. Yah kalo di akte kelahiran namanya Noer Hoetomo. Teman teman bapak, biasa memanggil dia dengan sebutan Tommy.

Bapak Lahir di Jakarta, 27 September 1956. Bapak 3 bersaudara, dia anak ke 2 (anak tengah). Kakak pertama nya bernama Noer Laksono ( Boy ), dan adiknya (anak ke 3) adalah Noer Eva Avianti ( Eva ).

Sekilas tentang bapak, dia memulai pendidikannya di SDN Tegal, Menteng. Kemudian melanjutkannya di SMPK PSKD 3, Menteng. dan SMAK PSKD 1, Menteng. Perguruan tinggi, ya….. Universitas… bapak memilih Universitas Kristen Indonesia (UKI), jurusan Ekonomi Manajemen.

Sejak tahun 1998, bapak mengetahui bahwa dirinya mengidap darah tinggi. Sejak saat itu pula iya berhenti merokok, makan daging, minum kopi, dan melakukan diet ketat khusus pengidap darah tinggi. Dia juga mulai berolahraga, mengayuh sepeda setiap hari, benar benar perubahan yang signifikan.

Bapak dulu adalah perkok berat, sejak SMA dia mulai merokok, dan menghabiskan 4 bungkus perharinya, dia benar2 berubah, tidak ada makan daging, kalo lagi idul adha aja dia memilih makanan yang lain πŸ™‚

Bapak Terkena PHK tahun 1998 saat Krismon ( Krisis Moneter ) Melanda Indonesia, bapak salah satu orang yang kurang beruntung. Saya sangat yakin iya mendapatkan beban dan shock yang luar biasa. Sejak saat itu iya tidak perna bekerja lagi secara resmi di suatu kantor (yangbergedung) mengenakan dasi, dan juga ber sepatu kulit. Bapak bekerja beberapa kali di sebuah LSM namanya IPCOS (Institue for Policy and Community Development Studies)

yah disana tidak benar2 mendapatkan income seperti saat bapak kerja “Kantoran”, hanya saat mereka punya “Project” baru bapak mendapatkan income, dan itu juga tidak terlalu layak untuk keluarga kecil kami yang hanya terdiri dari aku, ibu, dan bapak.

Bapak seseorang yang kuat menurutku, walaupun dia tidak bekerja, dan menurutku dia tidak berusaha untuk melamar (mungkin dia sudah terlalu lelah melamar dan ditolak), sehingga sekarang dia hanya di rumah.

Waktu aku masih kecil, bapak sangat kasar kepada ku, hanya kesalahan secuil saja, aku digebukin sampai parah banget, memang sih tidak ada cedera yang parah. Fisik ku memang tidak luka, tapi hatiku sangat terluka saat bapak seperti itu. Saat itu juga aku meragukan bapak sayang atau nggak sama aku, tapi seiring berjalannya waktu, aku tumbuh besar, dan mulai bisa “melawan” (berargumen kalau dia tidak perlu bertindak seperti itu dengan alasan kesalahanku yang kecil) dia mulai berubah. Aku sangat senang melihat perubahan itu, mungkin bapak berlaku seperti itu, karena tekanan yang ia dapat karena kejadian PHK itu, dan juga darah tinggi nya yang membuat dia menjadi seseorang yang Tempramental.

Sekarang… tahun 2011, iya menjadi seseorang yang tidak lebih kuat dibandingkan dulu, mungkin dulu untuk menguatkan diri nya iya melakukan tindakan seperti itu, namun sekarang, tidak ada lagi kekuatan dalam dirinya, dia powerless, dan aku tidak menyadari itu, dia kesepian di rumah, saat aku dan ibu sedang di luar rumah, dia hanya di rumah sendirian. Aku pergi Kuliah, ibu pergi mencari uang, dia di rumah sendirian.

Dia selalu menelpon aku dan ibu, kalian dimana, pulang jam berapa. Saat itu aku merasa perlakuan itu sangat mengganggu, dan aku hanya menjawab “Sore deh pokoknya!” dengan nada jutek, dan setengah marah. Mengapa begitu? pasalnya ia bertanya seperti itu tidak sekali dua kali tapi lebih dari 3 kali sehari.

Sekarang aku menyesal, dan baru mengerti bagaimana perasaan ia saat itu. Mungkin aku yang terlalu egois tidak bs mengindahkan perasaan bapak yang mungkin saat itu memang sedang terjebak dalam kesepian.

Sekarang bapak sedang terbujur lemah di Rumah Sakit, Terkena Serangan Stroke, seketika aku yang sedang berada di rumah teman untuk menginap, langsung merasa bersalah, menyesal dan semua perasaan negatif dalam diriku keluar. Semua memang datang terlambat, tapi aku akan memperbaiki semuanya, aku berjanji, aku akan menyayangi dan menjaga dia sampai titik darah terakhir ku.

Tidak ada lagi bentakkan, elakkan, suara bete, suara jutek dari diriku untuknya, bukan hanya untuk bapak tapi juga ibu.

Terkadang kita merasa orang tua adalah seseorang yang benar2 membosankan, bikin bete, tidak sejalan dengan prinsip kita dhe pokoknya. Namun dibalik semua itu mereka hanya menginginkan yang terbaik untuk kita, mereka menginginkan melihat kita yang sukses di masa depan dan membuat mereka bangga, dan tidak berfikir kalau mereka salah didik. πŸ™‚

Semoga tulisan ini menginspirasi teman-teman sekalian, ini adalah salah satu bentuk penyesalanku, terhadap sikapku yang sangat tidak peduli terhadap sekitar, keegoisanku yang menghantui kehidupanku.. ya aku akan berubah πŸ™‚

My Little Family

~Rhazchan

One response to “Bapak, Papa, Papi, Abah, Ayah, Pipi(?)

  1. elliza

    hehehe, laras, gw nangis bacanya…

    gw juga mau naro cerita ttg bapak gw di blog hehehhehe πŸ˜€

    semangat rascaan πŸ™‚ semoga bapaknya cepat sembuh ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s